Senin, 15 Agustus 2011

WAJAH KORUPSI

Tulisan ini lahir atas penggalan-penggalan kejadian yang mendara masyarakat, Dalam panasnya kemiskinan, banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk keluar dari kemiskinan, kehidupan-kehidupan masyarakat yang kian sering terperngkap persoalan ekonomi menjadi gambaran yang tak asing lagi bagi Negara yang kita cintai ini, sebagian masyarakat yang hidup di bawah lilitan kemiskinan, pemandangan-pemandangan tunawisma yang hidup di bawah kolong-kolong jembatan, tanah-tanah yang tak layak huni dan pinggir-pinggir kali yang sewaktu-waktu mengancam kehidupan mereka.
Para pejabat-pejabatnya masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, proses demokrasi yang ditempuh dan dianggap jurdil dalam pelaksanaan bernegara, ternyata hanya menjadi beban yang sangat berat bagi para warga, para orang-orang miskin semakin miskin, dan para elit-elit Negara sibuk dengan memperkaya diri mereka masing-masing, mereka Cuma memanfaatkan rakyat untuk menduduki tahta tertinggi dan ujung-ujungnya memeras rakyat dengan jalur-jalur tertentu.
Arah bangsa ini semakin tak jelas akibat pemangku-pemangku kekuasaan yang dipercaya rakyat menghianati masyarakat sendiri. Pemanfaatan kekuasaan telah mencoreng keadilan dan kejujuran yang tercermin melalui perampokan atau pencurian  yang dilakukan oleh para elit politik dan sipil, itulah korupsi, rakyat dibuai-buai dengan semboyan bahaya korupsi, ternyata, para penggas anti korupsilah yang melakukan korupsi.
Banyak sudah pengalaman-pengalaman dan prestasi yang ditorehkan oleh pengurus atau penyelenggara Negara-negara di Negara ini, prestasi-prestasi yang mereka torehkan selalu masuk dalam skala besar, prestasi itu berupa perampokan uang Negara, uang Negara yang berasal dari rakyat dikuras dengan cara dan intrik yang sangat rapi dan cantik.
Seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah memiliki tujuan yang mulia, setiap anak ingin menikmati pendidikan yang layak, Simon adalah siswa yang duduk di bangku sekolah dasar ia sudah menduduki kelas paling akhir di sekolahnya, di sekolah guru-guru Simon selalu memberikan arahan kepada murid-murid agar rajin menuntut ilmu, Simon adalah salah satu dari sekian anak Indonesia yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, berkat usaha keras kedua orang tuanya Simon masih bisa sekolah, berbagai macam pahitnya bersekolah telah ia rasakan, suatu ketika ia dipanggil oleh kepala sekolah, kepala sekolahnya menyarankan untuk membeli buku, namun melihat kondisi keluarganya Simon hanya bisa menjelaskan bahwa kedua orang tuanya tak punya uang untuk itu, bukan sekali ini saja Simon diperhadapkan semenjak ia bersekolah, kata-kata itu saja yang ia dengarkan  dari mulut kepala sekolah.
Di lain waktu Simon berprofesi sebagai pengumpul barang bekas atau menjadi kondektur mobil sehabis pulang dari sekolah, guru-guru di sekolahnya sangat disiplin dalam menerapkan waktu, namun sudah sangat sering guru-guru di sekolahnya datang terlambat dengan berbagai alasan kepada murid-murid.
Pernah suatu ketika salah satu guru masuk dan datang terlambat, murid-murid hanya ibu guru tak pernah salah, baik dalam kondisi apapun, ia langsung mengajarkan kepada Simon dan murid-murid yang lain mengenai orang yang sukses dan selalu tepat waktu, Simon membuka bukunya yang ia dapat dari tetangganya kebetulan buku tetangganya itu sama dengan buku yang ia pelajari di sekolah. Ia membuka lembaran demi lembaran yang ia lihat hanya gambar orang-orang yang dikatakan oleh ibu guru adalah orang sukses seperti, polisi, dokter, pegawai, dan direktur kantor. Simon menaruh harapan yang lebih ada impiannya itu, ia bercita-cita ingin seperti orang-orang yang ada dalam buku ini, pemikiran Simon yang masih kecil ini membuat ia selalu bersemangat dalam bersekolah. Di akhir pelajaran ibu guru memberikan nasehat pada Simon dan teman-temannya, kalau ingin menjadi orang sukses harus rajin dan selalu tepat waktu, Simon lalu mengacungkan tangannya dan bertanya pada ibu guru “bu’.. kenpaa ibu sering datang terlambat?, apakah orang sukses itu kalau sukses tidak disiplin lagi”. Simon lalu dipanggil oleh gurunya akibat dari pertanyaan polosnya itu, ia lalu dipermalukan di depan teman-temannya dan sesekali dicubit oleh gurunya, sejak itu Simon menanamkan dalam benaknya bahwa orang seperti ibu guru bisa membuat apa saja dan ia ingin seperti gurunya itu dan gemar datang terlambat dan selalu cepat pulang.
Negeri ini telah memelihara orang-orang yang tak bertanggung jawab, kemiskinan yang kian bercokol di puncak membuat para aparat dan penyelenggaraan bernegara semakin semena-semena terhadap masyarakat kecil.
Diceritakan sebuah tempat yang memiliki penduduk kurang lebih dua ratus juta jiwa,berbagai macam  kegiatan ada dalam masyarakat yang mengalami modernisasi di sebuah tempat persinggahan mobil atau terminal selalu padat di kunjungi berbagai jenis kendaraan semuanya diatur dengan kemuan pengelola  terminal.Di dalam terminal itu diisi berbagai macam pedagang dan pengunjung, pedagang selalu memberikan uang sewa kepada pengelola antar pegawai yang bekerja di perhubungan darat itu,setiap bulannya para pedagang menyetor  uang sewa kepada pengelola terminal sebagai bentuk  sewa lahan yang mereka tempati,kurang lebih terdapat 100 pedagang yang mencari nafkah di dalam terminal,para penagi dalam hal ini pengelola terminal selalu tersenyum.Ketika saat  penagihan  itu tiba tapi ada yang lebih menarik lagi di terminal  juga beroperasi pedagang  asongan,maka memanfaatkan  terminal sebagai lahan tempat berjualan mereka juga masuk dalam daftar pengguna tentunya selalu membayar uang pemanfaatan lahan bagi pegawai terminal kurang lebih ada 200-an orang yang beroperasi sebagai pedagang asongan di terminal itu.
            Tiba waktunya para pegawai turun ke lapangan unutk melakukan penagihan satu persatu lapak-lapak pedagang dimasukinya ,para pegawai ini dipekerjakan oleh Negara dan setiap tagihan yang mereka dapatkan dari pedagang merupakan uang yang masuk dalam kas pendapatan daerah atau Negara tapi ada-ada saja kelakuan yang ganjil dari apa di Negara ini yakni memanfaatkan uang Negara untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya demi hasil uang tagihan yang didapatkan  mereka selalu mengalokasikan untuk pemenuhan kebutuhan pribadi seperti rokok,kopi  dan makan bahkan lebih celakanya uang yang harus disetor  ke kas daerah atau Negara  itu di pakai untuk membayar hutang sehari-hari  yang selama bekerja di terminal,padahal uang yang mereka kumpulkan itu sudah masuk dalam daftar APBN atau APBD, ini bukannya pemanfaatan wewenang namanya dimana para abdi Negara ini telah melakukan pencurian kecilkecilan dalam lingkup skala sedang,artinya mereka mendapatkan gaji dua kali lipat sudah digaji oleh Negara  dan menggaji dirinya sendiri dari hasil tagihan dari pedagang yang menggunakan lahan Negara
Itulah kejadian  yang terjadi pada para pegawai terminal dalam operasinya terhadap pedagang menengah kebawah  lain halnya  lagi para abdi Negara ini memungut bayaran dari para pedagang asongan setelah menagih pedagang asongan uangnya tidak jelas lari kemana,ketika  penertiban pedagang asongan terjadi munculah oplemik yang berujung konflik ketidakjelasan nasib pedagang asongan,para pedagang  asongan mengatakan kami resmi beroperasi di terminal ini, setiap hari kami membayar biaya retribusi penggunaan lahan kepada pihak pengelola, suatu ketika  kejadian kejadian yang tak disangka-sangka oleh para pedagang asongan saat itu para pedagang asongan menuntut haknya karena sudah membayar kewajibannya sebagai penggunaan fasilitas Negara.Tidak ada pegawai  perhubungan yang bertanggung jawab atas kejadian itu,mereka hanya  makan uang rakyat tapi tidak bertanggung jawab atas nasib rakyat.
Diceritakan pula sebuah keluarga yang hidupnya serba berkecukupan memiliki dua orang anak, anak-anaknya yang dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan kemapanan ayahnya yang menjadi seorang rector di salah satu perguruan tinggi dan ibunya yang berprofesi seorang dokter, ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya begitupun dengan si ibu yang disibukkan dengan kerjaan, dalam lingkungan kampus yang begitu megah menjadi sebuah pertemuan antara petinggi-petinggi kampus, mereka sibuk dengan masalah keuangan kampus yang disinejikan dengan keuangan mahasiswa, dalam keputusan itu melahirkan sebuah kebijakan mengenai pencarian dana pada mulanya, mahasiswa hanya mengajukan proposal dan menanti cairnya uang yang akan dikucurkan.
Selepas kegiatan mereka membuat pertanggungjawaban  dengan pengolah dana yang telah diberikan. Para intelektual muda ini selalu bekerja dengan jujur dan proaktif dalam mengusung yang mengkritisi kampus dengan lahirnya kebijakan baru para mahasiswa tidak berterima dengan hal itu, prosedur-prosedur yang lama kini diganti yang baru, setiap kelompok mahasiswa yang tergabung dalam lembaga apabila masih menyelenggarakan kegiatan harus mengusung proposal atau daftar kegiatan dan anggarannya, hal ini masih diterima namun setelah mendapat persetujuan dan mengetahui jumlah nominal yang akan diterima mereka harus membuat laporan pertanggungjawaban, hal inilah yang mengusung perdebatan kegiatan belum bertjalan merekamembuat laporan kegiatan yang fiktif, demi terselenggaranya kegiatan bersikeras untuk menolak kebijakan tersebut, hal ini dirasa janggal, lama berjalan kebijakan ini pun berjalan tanpa adanya protes dari teman-teman mahasiswa, setiap kebenaran yang dipertanyakan oleh mahasiswa selalu ditutup-tutupi oleh birokrasi kampus demi kepentingan kegiatan, mahasiswa sibuk menacari kelengkapan-kelengkapan untuk mengeluarkan uang kegiatan para mahasiswa dididik untuk melakukan kerja-kerja yang kotor seperti meminta bukti pembayaran di suatu toko, sesuai jumlah nominal uang yang tertera dalam projek proposal.
Melalui bukti-bukti hasil belanja dari toko yang fiktif itu mahasiswa menampungnya untuk dijadikan laporan pertanggungjawaban kegiatan yang belum terselenggara.
Kebijakan dikeluarkan oleh kampus telah mendidik para intelektual muda dalam melakukan penipuan-penipuan yang terstruktur dengan adanya laporan kegiatannya belum terselenggara jika ini dibiarkan seluruh mahasiswa menjadi generasi penggerak bangsa ke depan akan menjadi penipu bagi Negara dan bangsanya sendiri dengan membuat program-program yang fiktif yang senantiasa mengatasnamakan rakyat atau kelompok pada hal ingin memperkaya diri melalui tawaran kertas yang belum jelas itu.
Di lingkungan keluarganya sendiri pemimpin kampus itu membesarkan anaknya dengan hidup yang mewah, waktu terus berputar tak terasa anak-anaknya mereka bekerja di sebuah instansi Negara. Setelah ayahnya yang berprofesi sebagai rector tersandung korupsi yang menggelapkan uang Negara sebesar tujuh puluh satu triliun. Semua hartanya disita oleh Negara, dalam tempo singkatpun akhirnya mereka miskin, karena berasal dari keluarga yang mapan pada awalnya mereka lalu melihat keluarganya yang jatuh miskin kemudian mereka memanfaatkan posisi mereka sebagai abdi Negara untuk memperkaya diri kembali akibat tidak berterimaan atas jatuh miskinnya mereka, selalu menyelinap ke dalam jalan-jalan yang korup seperti pengadaan fasilitas pemilik Negara pembangunan-pembangunan aset publik yang ujung-ujungnya dikerjakan melalui proposal pengadaan fasilitas dan aset publik yang fiktif, orang-orang yang terlibat dalam pembangunan property itu tidak ada yang menadapatkan uang pelican dan uang tutup mulut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar