Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2011

WAJAH KORUPSI

Tulisan ini lahir atas penggalan-penggalan kejadian yang mendara masyarakat, Dalam panasnya kemiskinan, banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk keluar dari kemiskinan, kehidupan-kehidupan masyarakat yang kian sering terperngkap persoalan ekonomi menjadi gambaran yang tak asing lagi bagi Negara yang kita cintai ini, sebagian masyarakat yang hidup di bawah lilitan kemiskinan, pemandangan-pemandangan tunawisma yang hidup di bawah kolong-kolong jembatan, tanah-tanah yang tak layak huni dan pinggir-pinggir kali yang sewaktu-waktu mengancam kehidupan mereka.
Para pejabat-pejabatnya masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, proses demokrasi yang ditempuh dan dianggap jurdil dalam pelaksanaan bernegara, ternyata hanya menjadi beban yang sangat berat bagi para warga, para orang-orang miskin semakin miskin, dan para elit-elit Negara sibuk dengan memperkaya diri mereka masing-masing, mereka Cuma memanfaatkan rakyat untuk menduduki tahta tertinggi dan ujung-ujungnya memeras rakyat dengan jalur-jalur tertentu.
Arah bangsa ini semakin tak jelas akibat pemangku-pemangku kekuasaan yang dipercaya rakyat menghianati masyarakat sendiri. Pemanfaatan kekuasaan telah mencoreng keadilan dan kejujuran yang tercermin melalui perampokan atau pencurian  yang dilakukan oleh para elit politik dan sipil, itulah korupsi, rakyat dibuai-buai dengan semboyan bahaya korupsi, ternyata, para penggas anti korupsilah yang melakukan korupsi.
Banyak sudah pengalaman-pengalaman dan prestasi yang ditorehkan oleh pengurus atau penyelenggara Negara-negara di Negara ini, prestasi-prestasi yang mereka torehkan selalu masuk dalam skala besar, prestasi itu berupa perampokan uang Negara, uang Negara yang berasal dari rakyat dikuras dengan cara dan intrik yang sangat rapi dan cantik.
Seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah memiliki tujuan yang mulia, setiap anak ingin menikmati pendidikan yang layak, Simon adalah siswa yang duduk di bangku sekolah dasar ia sudah menduduki kelas paling akhir di sekolahnya, di sekolah guru-guru Simon selalu memberikan arahan kepada murid-murid agar rajin menuntut ilmu, Simon adalah salah satu dari sekian anak Indonesia yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, berkat usaha keras kedua orang tuanya Simon masih bisa sekolah, berbagai macam pahitnya bersekolah telah ia rasakan, suatu ketika ia dipanggil oleh kepala sekolah, kepala sekolahnya menyarankan untuk membeli buku, namun melihat kondisi keluarganya Simon hanya bisa menjelaskan bahwa kedua orang tuanya tak punya uang untuk itu, bukan sekali ini saja Simon diperhadapkan semenjak ia bersekolah, kata-kata itu saja yang ia dengarkan  dari mulut kepala sekolah.
Di lain waktu Simon berprofesi sebagai pengumpul barang bekas atau menjadi kondektur mobil sehabis pulang dari sekolah, guru-guru di sekolahnya sangat disiplin dalam menerapkan waktu, namun sudah sangat sering guru-guru di sekolahnya datang terlambat dengan berbagai alasan kepada murid-murid.
Pernah suatu ketika salah satu guru masuk dan datang terlambat, murid-murid hanya ibu guru tak pernah salah, baik dalam kondisi apapun, ia langsung mengajarkan kepada Simon dan murid-murid yang lain mengenai orang yang sukses dan selalu tepat waktu, Simon membuka bukunya yang ia dapat dari tetangganya kebetulan buku tetangganya itu sama dengan buku yang ia pelajari di sekolah. Ia membuka lembaran demi lembaran yang ia lihat hanya gambar orang-orang yang dikatakan oleh ibu guru adalah orang sukses seperti, polisi, dokter, pegawai, dan direktur kantor. Simon menaruh harapan yang lebih ada impiannya itu, ia bercita-cita ingin seperti orang-orang yang ada dalam buku ini, pemikiran Simon yang masih kecil ini membuat ia selalu bersemangat dalam bersekolah. Di akhir pelajaran ibu guru memberikan nasehat pada Simon dan teman-temannya, kalau ingin menjadi orang sukses harus rajin dan selalu tepat waktu, Simon lalu mengacungkan tangannya dan bertanya pada ibu guru “bu’.. kenpaa ibu sering datang terlambat?, apakah orang sukses itu kalau sukses tidak disiplin lagi”. Simon lalu dipanggil oleh gurunya akibat dari pertanyaan polosnya itu, ia lalu dipermalukan di depan teman-temannya dan sesekali dicubit oleh gurunya, sejak itu Simon menanamkan dalam benaknya bahwa orang seperti ibu guru bisa membuat apa saja dan ia ingin seperti gurunya itu dan gemar datang terlambat dan selalu cepat pulang.
Negeri ini telah memelihara orang-orang yang tak bertanggung jawab, kemiskinan yang kian bercokol di puncak membuat para aparat dan penyelenggaraan bernegara semakin semena-semena terhadap masyarakat kecil.
Diceritakan sebuah tempat yang memiliki penduduk kurang lebih dua ratus juta jiwa,berbagai macam  kegiatan ada dalam masyarakat yang mengalami modernisasi di sebuah tempat persinggahan mobil atau terminal selalu padat di kunjungi berbagai jenis kendaraan semuanya diatur dengan kemuan pengelola  terminal.Di dalam terminal itu diisi berbagai macam pedagang dan pengunjung, pedagang selalu memberikan uang sewa kepada pengelola antar pegawai yang bekerja di perhubungan darat itu,setiap bulannya para pedagang menyetor  uang sewa kepada pengelola terminal sebagai bentuk  sewa lahan yang mereka tempati,kurang lebih terdapat 100 pedagang yang mencari nafkah di dalam terminal,para penagi dalam hal ini pengelola terminal selalu tersenyum.Ketika saat  penagihan  itu tiba tapi ada yang lebih menarik lagi di terminal  juga beroperasi pedagang  asongan,maka memanfaatkan  terminal sebagai lahan tempat berjualan mereka juga masuk dalam daftar pengguna tentunya selalu membayar uang pemanfaatan lahan bagi pegawai terminal kurang lebih ada 200-an orang yang beroperasi sebagai pedagang asongan di terminal itu.
            Tiba waktunya para pegawai turun ke lapangan unutk melakukan penagihan satu persatu lapak-lapak pedagang dimasukinya ,para pegawai ini dipekerjakan oleh Negara dan setiap tagihan yang mereka dapatkan dari pedagang merupakan uang yang masuk dalam kas pendapatan daerah atau Negara tapi ada-ada saja kelakuan yang ganjil dari apa di Negara ini yakni memanfaatkan uang Negara untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya demi hasil uang tagihan yang didapatkan  mereka selalu mengalokasikan untuk pemenuhan kebutuhan pribadi seperti rokok,kopi  dan makan bahkan lebih celakanya uang yang harus disetor  ke kas daerah atau Negara  itu di pakai untuk membayar hutang sehari-hari  yang selama bekerja di terminal,padahal uang yang mereka kumpulkan itu sudah masuk dalam daftar APBN atau APBD, ini bukannya pemanfaatan wewenang namanya dimana para abdi Negara ini telah melakukan pencurian kecilkecilan dalam lingkup skala sedang,artinya mereka mendapatkan gaji dua kali lipat sudah digaji oleh Negara  dan menggaji dirinya sendiri dari hasil tagihan dari pedagang yang menggunakan lahan Negara
Itulah kejadian  yang terjadi pada para pegawai terminal dalam operasinya terhadap pedagang menengah kebawah  lain halnya  lagi para abdi Negara ini memungut bayaran dari para pedagang asongan setelah menagih pedagang asongan uangnya tidak jelas lari kemana,ketika  penertiban pedagang asongan terjadi munculah oplemik yang berujung konflik ketidakjelasan nasib pedagang asongan,para pedagang  asongan mengatakan kami resmi beroperasi di terminal ini, setiap hari kami membayar biaya retribusi penggunaan lahan kepada pihak pengelola, suatu ketika  kejadian kejadian yang tak disangka-sangka oleh para pedagang asongan saat itu para pedagang asongan menuntut haknya karena sudah membayar kewajibannya sebagai penggunaan fasilitas Negara.Tidak ada pegawai  perhubungan yang bertanggung jawab atas kejadian itu,mereka hanya  makan uang rakyat tapi tidak bertanggung jawab atas nasib rakyat.
Diceritakan pula sebuah keluarga yang hidupnya serba berkecukupan memiliki dua orang anak, anak-anaknya yang dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan kemapanan ayahnya yang menjadi seorang rector di salah satu perguruan tinggi dan ibunya yang berprofesi seorang dokter, ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya begitupun dengan si ibu yang disibukkan dengan kerjaan, dalam lingkungan kampus yang begitu megah menjadi sebuah pertemuan antara petinggi-petinggi kampus, mereka sibuk dengan masalah keuangan kampus yang disinejikan dengan keuangan mahasiswa, dalam keputusan itu melahirkan sebuah kebijakan mengenai pencarian dana pada mulanya, mahasiswa hanya mengajukan proposal dan menanti cairnya uang yang akan dikucurkan.
Selepas kegiatan mereka membuat pertanggungjawaban  dengan pengolah dana yang telah diberikan. Para intelektual muda ini selalu bekerja dengan jujur dan proaktif dalam mengusung yang mengkritisi kampus dengan lahirnya kebijakan baru para mahasiswa tidak berterima dengan hal itu, prosedur-prosedur yang lama kini diganti yang baru, setiap kelompok mahasiswa yang tergabung dalam lembaga apabila masih menyelenggarakan kegiatan harus mengusung proposal atau daftar kegiatan dan anggarannya, hal ini masih diterima namun setelah mendapat persetujuan dan mengetahui jumlah nominal yang akan diterima mereka harus membuat laporan pertanggungjawaban, hal inilah yang mengusung perdebatan kegiatan belum bertjalan merekamembuat laporan kegiatan yang fiktif, demi terselenggaranya kegiatan bersikeras untuk menolak kebijakan tersebut, hal ini dirasa janggal, lama berjalan kebijakan ini pun berjalan tanpa adanya protes dari teman-teman mahasiswa, setiap kebenaran yang dipertanyakan oleh mahasiswa selalu ditutup-tutupi oleh birokrasi kampus demi kepentingan kegiatan, mahasiswa sibuk menacari kelengkapan-kelengkapan untuk mengeluarkan uang kegiatan para mahasiswa dididik untuk melakukan kerja-kerja yang kotor seperti meminta bukti pembayaran di suatu toko, sesuai jumlah nominal uang yang tertera dalam projek proposal.
Melalui bukti-bukti hasil belanja dari toko yang fiktif itu mahasiswa menampungnya untuk dijadikan laporan pertanggungjawaban kegiatan yang belum terselenggara.
Kebijakan dikeluarkan oleh kampus telah mendidik para intelektual muda dalam melakukan penipuan-penipuan yang terstruktur dengan adanya laporan kegiatannya belum terselenggara jika ini dibiarkan seluruh mahasiswa menjadi generasi penggerak bangsa ke depan akan menjadi penipu bagi Negara dan bangsanya sendiri dengan membuat program-program yang fiktif yang senantiasa mengatasnamakan rakyat atau kelompok pada hal ingin memperkaya diri melalui tawaran kertas yang belum jelas itu.
Di lingkungan keluarganya sendiri pemimpin kampus itu membesarkan anaknya dengan hidup yang mewah, waktu terus berputar tak terasa anak-anaknya mereka bekerja di sebuah instansi Negara. Setelah ayahnya yang berprofesi sebagai rector tersandung korupsi yang menggelapkan uang Negara sebesar tujuh puluh satu triliun. Semua hartanya disita oleh Negara, dalam tempo singkatpun akhirnya mereka miskin, karena berasal dari keluarga yang mapan pada awalnya mereka lalu melihat keluarganya yang jatuh miskin kemudian mereka memanfaatkan posisi mereka sebagai abdi Negara untuk memperkaya diri kembali akibat tidak berterimaan atas jatuh miskinnya mereka, selalu menyelinap ke dalam jalan-jalan yang korup seperti pengadaan fasilitas pemilik Negara pembangunan-pembangunan aset publik yang ujung-ujungnya dikerjakan melalui proposal pengadaan fasilitas dan aset publik yang fiktif, orang-orang yang terlibat dalam pembangunan property itu tidak ada yang menadapatkan uang pelican dan uang tutup mulut.

Kamis, 21 Juli 2011

GELISAH

            Di ruang kelas yang begitu sempit, teman-teman lagi menunggu Diktator yang akan mengisi ruang kelas yang menjadi tempatnya untuk berpidato. Para anak muda yang sedang duduk asyik dengan cengkramanya masing-masing, ada yang membuat lingkaran kecil dengan tumpukan tas di tengah-tengahnya dan ada juga yang bertebaran seperti ikan kering yang berjemur di atas rak-rak yang terbuat dari kayu. Sambil menghisap sedotan yang ditancapkan pada sebuah minuman dingin yang dikemas ke dalam gelas plastik. Kelihatan dia sangat haus dengan suhu udara yang begitu terik. Namun, begitu banyak yang berdiskusi tentang dictator yang akan datang untuk mengajari mereka.
            Salah seorang perempun berlari dengan tergopoh-gopoh sambil menenteng tasnya dengan kulit yang basah, ia datang ke tengah-tengah para orang yang sedang santai itu, bergerak dengan serempak mirip dengan para tentara yang diberi komando oleh atasannya. Nurdin masih asyik dengan buku yang ia baca dengan harapan rokok yang sesekali ia keluar masukkan dari dalam mulutnya. Teman-temannya pun berlari dengan wajah yang tegang, setelah Isna datang membawa informasi mengenai sosok diktator yang akan datang ke ruang kelasnya.
            “Tadi Bapak berada di belakang saya”
            “ Dia sudah berada di tangga lantai dua menuju ke sini”
            Ceritanya singkat kepada teman-temannya. Mereka mulai mencari bangku-bangku kosong yang siap mereka tempati untuk mendapatkan pembelajaran. Satu per satu kertas dan bolpoin mulai berbunyi di atas meja. Nurdin melangkahkan kakinya, ia masih sibuk dengan bacaannya, punting rokoknya dibuang ke halaman dekat kelasnya. Tak lama berselang sekarang muncul dari dalam lorong dengan jenggot panjang, dada membusung ke belakang, perut membuncit ke depan, kedua bahunya berayun dari depan ke belakang.
            Nurdin mengangkat wajahnya dan tersentak dictator itu datang.
            Tangan kanannya menenteng banyak buku, sambil melangkah dosen itu member tanda kepada Nurdin dengan mengacungkan tangan kirinya ke depan, telunjuknya bergerak ke sebelah kanan, sorotan matanya yang tajam membuat orang takut untuk melihatnya.
            Nurdin melangkah dengan santai ke ruang kelasnya. Ia memilih untuk duduk di belakang karena bangku semuanya telah penuh hanya bangku belakanglah yang masih kosong.
            Dalam perjalanannya tadi menuju ruangan, ia berpikir dan berbisik dalam hati, “ Pak Darmis tadi seperti algojo saja yang mau mengeksekusi orang-orang yang sedang duduk di atas kursi listrik dalam ruangan yang saya tempati ini,” sambil mengelurkan senyum yang kecil di bibirnya.
            “ Nurdin, kenapa kamu senyum-senyum begitu…?” tanya salah seorang temannya yang begitu tegang dalam ruang kelas.
            “ Ah… tidak, lagi berkhayal saja,” jawabnya sambil menoleh ke depan temannya yang bertanya tadi.
            Tak lama berselang, dosen itu muncul di balik pintu, sambil menoleh ke kiri dan kanan, seperti kepala penjara yang sedang mengamati para tahanan dalam beraktifitas.
            Salah seorang teman berbisik kepada saya, “lihat bapakmu datang”, sambil tertawa kecil. Dengan suara kecil aku membalas canda temanku tadi,”itu bapakmu”. Nurdin dan temannya tertawa kecil di belakang. Dengan meletakkan bukunya di atas meja, pak Darmis           menuju ke papan tulis. Sambil meneteng sebuah spidol, pelajaran dimulai. Namun, teman-temanku sangat tegang dengan kehadirannya. Ruang kelas mendadak hening seperti berada dalam penjara penyiksaan.
            Saya melihat wajah-wajah yang tadi siang begitu girang kini mendadak berubah pucat. Waktu terus berputar tak terasa jam pelajaran akan segera habis.
            “ Ada yang bertanya?”, dengan suara yang begitu lantang. Darmis berbicara sambil menuju ke kursi bagian depan yang dihuni oleh para mahasiswa perempuan. Ia mulai memegang satu persatu para mahasiswi yang berada di dekatnya. “ Bagaimana Isna, kamu sudah mengerti?”. Isna menghindar secara perlahan dengan meggoyangkan tubuhnya ke samping kiri karena tangan dosennya mulai meraba bagian tubuhnya,
            “ Iya pak.” Mungkin karena Isnalah yang begitu cantik di antara yang lain.
            Aku mengangkat leherku ke atas dan melihat kejadian itu, aku memberi tanda kepada temanku, dengan mengarahkan telunjuk kiriku ke depan.
            “ Lihat, bapakmu”, temanku berdiri sambil menggelengkan kepalanya “ lale”, sambil mengepal tangannya. Pak Darmis tiba-tiba berdiri, aku dan temanku duduk dengan cepat.
            “ sudah mengerti?”. Salah seorang teman mengacungkan tangan ingin bertanya, semua mata tertuju padanya.
            “Ya… apa pertanyaannya ” dengan suara yang menggelegar, dan memberinya lototan mata. Aku melihat dictator itu seakan-akan ia benci kepada anak laki-laki yang bertanya tadi. “ Begini pak, kalau pendapat saya, bahasa itu bukan lagi alat komunikasi yang baik dan benar”.
            “ Maksud kamu…?”, tanyanya kembali pada anak laki-laki itu.
            “ Iya… saya mengambil contoh seperti penerbitan, revitalisasi, dan pembenahan, ujung-ujungnya penggusuran. Jadi mending kita jangan berusaha mengelabui masyarakatlah dengan bahasa-bahasa serti itu,” Tanya anak yang duduk di pojok sebelah kiri dengan menggunakana baju kaos berwarna merah, tersirat kata “lawan” pada punggung bajnya dengan warna putih.
            Ia kembali berbicara dengan nada yang santun, “jadi kita sebagai orang ahli bahasa telah melakukan kebohongan kepada mereka, dan membuat banyak orang menderita akibat bahasa kita.”
            Aku melihat anak itu dan sesekali memandang dikatator yang sedang melihat temanku yang bertanya, wajahnya tambah merahm dengan pertanyaan yang ditujukan anak itu, terlihat ia seakan dipojokkan dengan salah satu pertanyaan dari temanku.
“ Betul juga yang dikatakan temanku tadi, baru-baru aku membaca koran mengenai perlawanan warga,”kataku dalam hati. Aku mulai mengurai dalam pikiranku mengenai koran yang ku baca tadi pagi, “ warga melawan satpol PP atas himbauan walikota”. Sambuil mengangkat tangan kiriku dan menutup mulutku sambil berpikir. Aku mulai bertanya-tanya lagi dalam hati, “ iya walikota ingin merevitalisasi tempat itu, untuk menjadi tempat para investor membangun.”
Perdebatan pun semakin memanas, aku hanya bisa melihat pak Darmis dan temanku berdebat. Saya melihat pak Darmis tidak ingin di pojokkan sebagai orang ahli bahasa, tiba-tiba ia mengangkat tangannya dan menunjuk-nunjuki temanku yang bertanya tadi, “ kamu baru jadi mahasiswa sudah berani membantah dosen.”
Tiba-tiba di kelas hening seperti tak berpenghuni akibat dari kemarahan dikatator yang meledak-ledak seperti jagung bakar, dalam api ketika meledak kita takut akan bara panas yang keluar dari dalam tungku, akibat letusan jagung bakar itu.
Pak Darmis mulai menutup kelas itu, semua orang bergegas keluar, ada yang masih merapikan buku dan alat tulis lainnya ke dalam tas. Mereka seperti baru saja bebas dari penjara dan menghirup udara bebas, dan bergegas lari keluar.

Minggu, 12 Juni 2011

BANJIR


            Malam yang begitu hening, hanya lalat dan nyamuk yang menemaniku, musim hujan telah tiba, diam dan mengkhayal di sela-sela kebisuan dan kesenyapan malam. Aku berdiam diri di antara dua buah tiang yang mengapit kamar itdurku itu, tak henti-hentinya tangan ini berayun hanya untuk menghalau si penghisap darah yang hinggap di kulit tubuhku. Tepukan demi tepukan berbunyi, namun mereka tidak menghiraukan kekerasan yang aku lancarkan dalam setiap serangan tanganku kepadanya, “ Ah dasar nyamuk sialan,” kerjanya hanya mengangguku dan memanfaatkan aku yang sedang lemah dalam keterbaringanku, aku mulai merangkak dari kursiku untuk mencari anti nyamuk bakar, lantai rumahku terlalu basah untuk aku lalui akibat genangan air yang masuk dan menghuni rumahku. Dalam hati aku bertanya, “ seandainya parit itu tidak dibuat air tidak masuk ke dalam rumahku” ayunan kakiku terus melangkah melawan arus air yang semakin deras menghujam ruangan rumahku. “ Seperti air di sungai saja,” ucapku dengan pelan.
            Dalam pencarianku, apa yang kucari tak kunjung aku temukan, anti nyammuk yang aku andalkan dalam mengusir para penghisap darah telah lenyap terbawa oleh arus air, yang kutemukan hanyalah pembungkusnya, aku sangat kecewa akibat banjir yang masuk ke dalam rumahku ini.
            Rasa putus asa mendatangi pikiranku, kupaksakan diriku mengitari genangan air yang bercampur dengan lumpur itu dam masuk ke dalam kamarku, air yang tingginya sampai lutut ternyata belum merendam kasurku. Aku terdiam sejenak dan berkhayal, “air pasti akan tambah tinggi, kalau aku tidur bisa basah aku nantinya” namun mata ini terus memaksa untuk dirapatkan, kebuang semua kemungkinan-kemungkinan dalam pikiranku aku juga membutuhkan istirahat di malam hari, nyamuk tak kuhiraukan lagi akibat rasa lelah yang aku derita dalam memindahkan barang-barangku yang akan di hujani oleh air dari tadi siang itu.
            Pukul dua dini hari aku kembali terbangun karena dingin dan gangguan nyamuk, aku mulai membuka mata dan bergegas lompat ke lantai mencari pelindung dingin, aku tak sadar bahwa keadaan rumahku sekarang telah digenangi air tempat bermainnya ikan-ikan dan jentik-jentik nyamuk, bergegas kaki ini melompat ke atas kasur karenadingin. Aku baru sadar setelah kakiku terjerumus ke dalam air, celanaku basah akibat kecerobohanku.
            “ Sial semua ini karena parit besar itu,” ucapku dengan rasa kesal. Parit yang membelah rumahku dengan jalan raya yang dibangun oleh pemerintah untuk mengantisipasi banjir ternyata memunculkan masalah di rumahku. Kutarik sebuah sarung dari dalam lemari yang tidak dijangkau oleh air. Aku mulai terbaring kembali untuk meilhat matahari pagi esok hari. Pagi-pagi aku memutar badanku untuk mencari posisi yang nyaman untun tidur, tak lama berselang perutku mulai berbunyi rasa lapar kini kembali membayang-bayangi tidurku, akibat dari suhu yang begitu dingin ditambah lagi hujan yang tak pernah reda dalam menyiram atap rumahku, namun rasa ngantuk terus mengawasi diriku, “ besok saja aku makan,” tanyaku dalam hati utnuk menenangkan diriku ini. Kurasakan diriku tidur, aku mulai meyakinkan diriku untuk mengantisipasi perutku yang mengamuk meminta makanan. “ Komporku rusak akibat genangan air,” pikirku meraba-raba bantal guling yang hilang dari pelukanku. “ Besok saja aku puaskan diriku makan, sekarang tidak ada apa-apa yang bisa aku perbuat dan tak berdaya,” mataku pun mulai sandar tak sadarkan diri.
            Matahari mulai berada di atas atap rumahku, tak seperti biasanya aku didahului oleh matahari dalam meilhat bumi, nmaun kini kejadian itu terjadi. Kubuka kain penutup jendela kamarku yang penuh dengan debu, aku mulai meraba kunci jendela dengan kondisi setengah sadar. Kaca jendelaku yang terbuat dari plastic mulai kendor akibat terpaan angin kencang, sambil kubersihkan mataku dengan jari telunjuk kiriku, aku telah menarik kunci jendelanya, segera aku membuka jendela dan memandang langit yang masih sedikit gerimis bercampur dengan sinar matahari,” wah, hujan belum berhenti, namun matahari tetap muncul, langit tidak gelap seperti biasanya ketika hujan akan turun,” tanyaku pada diriku sendiri yang terheran-heran melihat kejadian itu. Mulutku terasa pahit sekali, badanku masih terasa sangat lemah, aku memberanikan diri untuk melangkah dari dalam tempat tidurku. Genangan air masih bertahan dalam rumahku meski tak seprah malam tadi, aku melihat sekeliling rumah yang tertinggal hanyalah bekas-bekas lumpur yang menempel di dinding rumah dengan sedikit genangan air yang menyentuh mata kakiku saat aku bangun tadi. Secepatnya aku ke sumur belakang rumahku untuk mencuci muka, “ wah ada apa ini kenpa tikusnya banyak?” tanyaku seolah-olah aku bercerita ditemani dengan seseorang.
            Alis mataku hampir bertemu ketika melihat kejadian itu. Pikiranku mulai menberontak, mataku mulai memata-matai untuk mencari kayu, demi mengusir kerumunan yang tampak kedinginan akibat hujan yang tak pernah berhenti ditambah lagi rendaman air yang membasahi rumah mereka, tambah komplitlah penderitaan sang tikus akibat ulahku mengusir mereka dengan sapu, larinya terbirit-birit seperti pencuri yang tertangkap basah olehku,” mau kemana kalian,” sst….ssst….ssst…,” teriakku sambil mengejar para preman bermulut mancung itu, sesekali aku berteriak kegirangan melihat tikus-tikus itu lari terbirit-birit.
            Tak lama berselang orang dekat rumahku meulai keluar satu persatu, aku mulai memperhatikan kejadian yang terjadi, setiap orang telah membawa peralatan, seperti linggis, cangkul, skop dan berbagai macam perlengkapan akat-alat untuk membersihkan.

JALAN HIDUPKU



Siang yang kelam, wajah murung yang terpampang  jenuh menunggu dan melahirkan kebosanan yang ada, setetes demi setetes air mengalir dari atas kepalanya, wajahnya tampak lusu melihat keadaan yang terjadi, siang itu ia ingin keluar untuk mengumpulkan uang dari pada orang-orang yang masih memiliki uang yang lebih dalam setiap saku-saku celana dan bajunya, namum hatinya galuh karena tetesan air yang begitu deras mambahasi seluruh sketsa yang larut akan dalam penantian itu untuk melanjutkan aktifitas yabg terhambat oleh turunya air dari langit.
Ratna namanya gadis belia yang brumur 10 tahun relah memhabiskan masa kecilya untuk hidup di ruas-ruas jalan yang begitu ramai dan padat antrian kendaraan serta para manusia-manusia yang sibuk dengan dirinya masing-masing, baju baru dengan gambar beruang, celana putih berubah menjadi kecoklatan selalu menemprl di badanya untuk melindungi tubuhnya yang mungil demi panas matahari ketika ia mulai bekerja.
Disana tempat aku mengadu dan mengait rezeki, ditempat itulah aku dan adikku selalu berdiri dan kusodorkan gelas dan beserta adikku untuk kuperlihatkan kepada mereka yang masi merasa kasih kepada aku, yah….. sewaktu aku masih kecil dan belum mengenal jalan, mobil, dan gedung-gedung yang tumbuh begitu pesat aku sydah dibawah oleh orang tuaku untuk dipertontonkan hanya untuk mendapatkan makanan sehari-hari, aku yang tak bersekolah dan hidup demi hasil suapan orangb lain, masih rasanya melihat dunia ini indah seperti pada orang-orang yang berdasi dengan mobil-mobil yang mewah tempat tinggal yang layak, namum aku terlanjur dilahirkan miskin dan tak punya apa-apa selain baju dan adikku untuk menyambung hidup demi gelas yang aku sodorkan pada mereka.
Tempat yang begitu mudah bagiku, diruang itu aku dilahirkan dan meneriakkan suara yang sekencang-kencangnya untuk memberi tahu mereka bahwa seorang pengemis dan pemulung telah lahir, dibawah tumpukan sampah itu aku ketua demi pantat perempuan yang melahirkan, dengan dinding-dinding leluasa untuk keluar masuk hanya ditopang oleh 4 tiang bambu dan beratapkan kardus-kardus dari hasil barang yang aku pulung dalam perjalan kerumah, kini aku hanya bisa melihat anak-anak sebayaku bermain sepeda, memakan makanan yang bergisi, dan bersekolah, namum aku lebih jau dan berbeda dengan mereka yang aku hayalkan seorang anak peminta-minta, yang hidup dari gelas yang berwarna hijau yang aku tetnteng darin kesana kemari, dari pintu kepintu setiap kendaraan yang singgah di lampu merah, lampu tempat aku mengais rezeki, sungguh bedahnya aju dengan yang lain dimata mereka aku dipandang sebagai sampah masyarakat, aku bayangkan anak yang berpakaiyang kumal dan hidup dipinggir jalan seketika aku bverjalan, dan hari sudah gelap tak seorangpun memberiku makanan dan uang untuk membeli makanan dengan adikku dan aku putuskan untuk berpuasa namum aku tak kuasa melihat adikku yang masih berusia anak bulan ini. Ia menagis kesakitan akibat lapar, setiap tetesan air mata, mengalirkan semangat untuk mencarikannya penganjal perut demi menenangkan dirinya. Keputusan untuk kembali mengelilingi setiap pintu rumah demi mengharapkan kembali mengelilingi setiap pintu rumah demi mengharapkan pemberian untuk menutup perut yang lapar ini namun yang  saya dapatkan hanya kipasan-kipasan tangan yang diikuti dengan kata-kata “pergi” dan  tidak “ada”, dalam pandanganku mataku melihat makanan yang terjadi diatas meja ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang yang lapar namun memiliki uang yang cukup. Hanya mengacungkan tangan kemudian karyawan tempat makan itu mendatanginya, dan memeberinya makan aku hanya bisa melihat makanan bertumpuk dan keluar masuk dari dalam warung, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya dilihat sebagai orang yang berabau busuk dan sampah masyarakat baju yang kukenakan begitu berbeda dengan aku itu yang datang bersama orang tuanya untuk makan. Warnanya begitu terang, rambutnya yang halus dan lembut berbeda dengan rambutku yang keriting dan tidak pernah mandi ini, rambutku yang acak-acakan terlihat, jelas membedakan aku dengan dirinya, aku hanya bisa melihat adikku menangis dan menangis, semua orang mengusirku karena teriakan adikku yang begitu keras sehingga mengganggu acara makan mereka, aku hanya bisa manghindar sesaat dan kembali lagi aku tak tahan melihat adikku yang kelaparan itu menangis dan menangi, namun orang-orang tidak memperdulikan tangisan adikku dan wajah kasihanku, mereka mengusir dan mengusir aku terus menerus, kursi yang terletak di seberangh warung itu menjadi tempat istirahatku, aku hanya bisa menyaksikan tangisan adikku dan kucuran air matanya, aku tidak boleh berdiam diri, aku harus mendapatkan makanan, kuberanikan diriku untuk menerobos kawalan karyawan yang sedang berlalu lalang melayani para mereka yang punya uang, tanganku menyentuh salah satu meja dan mengambil makanan yang ada diatas meja, aku berhasil meraihnya namun tangan-tangan mulai menjamah diriku, dan membuat aku tersungkur dibawah kaki meja, genggamanku takkan melepaskan makanan itu, aku harus membawanya dan memberikannya kepada adikku, yang aku tinggal seorang diri dikursi, pukulan demi pukulan aku dapatkan “tidak sopan,” “dasar manusia” “kotor, pencuri” itulah kata-kata yang aku dengar, setelah tubuhku dihujam oleh para karyawan dan si pemilik makanan aku tetap bertahan dan berusaha menahan rasa sakit yang aku alami, aku cepat-cepat keluar dari bawah kaki meja sambil membawa makanan yang aku dapatkan, lekas kibawa makanan itu mengahadap adikku, dan memakankannya namun dia hanya terus menangis dan menangis, aku perlahan-lahan menyuapinya dan akhirnya makanan itu habis, di makan olehnya, mulutnya mulai diam dan tangisannya sudah redah, ia tertidur, aku terus melihat kearah warung makan tempat aku mendapatkan makanan, orang-orang membuang makanan diatas meja yang sempat terjamah oleh tanganku ini, mereka menganggap aku ini kotor dan makanan yang aku sentuh itu dibuang kebak sampah samping warung bergegas kakiku melangkah dan menghampiri bak sampah itu warnanya yang coklat penuh dengan sampah-sampah plastic dan kertas namun diatasnya bertumpuk makanan yang telah dibuang oleh para karyawan, secepatnya kumasukkan dalam mulutku dan kukunya untuk menghilangkan rasa lapar yang aku bawah dari tadi siang, aku tak mendapatkan se sen pun uang untuk membeli makanan, semenjak pagi sampai matahari tenggelam, namun kini aku telah kenyang dari hasil bak sampah yang berisi makanan.
Begitulah perjuanganku dalam menempuh hidup, kalau aku  tak dapat uang tempat sampah jadi pengaduan perutku namun kalau aku memilki uang, rotilah yang membuat aku kenyang, hidupku sepenuhnya kupertaruhkan di ruas-ruas badan jalan hasil dari pertarungan dan perkelahian orang-orang yang memilki uang didalamnya.
Hujan tak kunjung reda aku hanya bisa berdiam diri kini adikku aku titipkan pada seorang tetanggaku untuk dijaga aku daan tetanggaku itu sudah lama hidup senasib tak banyak yang berubah setelah ibuku meninggal dan ketika ia masih hidup, dingin yang begitu menggigil membuat bulu kudukku berdiri kedinginan kulitku mulai melahirkan bintik-bintik kecil sesekali hujam menyerang wajah hitamku, namun aku harus bertahan untuk melihat metahari esok, aku akan tetap bertahan menghadapi dingin yang menembus kulit-kulit dan membuat tubuhku mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki menggigil dan bergetar.
Kuberanikan diri menerobos gempuran air hujan yang jatuh dari langit untuk keluar mancari sesuap makanan secepatnya aku menghampiri bangunan lama yang tak jauh dari tempat aku berdiri tadi disana, banyak motor yang terparkir, aku melihat susunan manusia yang berrjajar dan sandar di tembok sambil menunggu hujan reda aku memperhatikannya ku lirik mereka satu persatu namun mereka hanya diam dan terus memandangi langit yang begitu tak bersahabat denganku, yah begitulah hari-hariku selama hujan turun, aku takut akan sesuatu menimpa diriku dalam pencarian ini, kalau aku sakit tak ada yang akan merawatku ayahku sudah meninggal pada saat aku berusia 3 tahun kini aku sudah berusia 10 tahun beban yang harus aku tanggung sangat berat ibuku yang meninggal melahirkan adikku yang semata wayang yang belum mengenal dunia ini dia hanya bisa menangis dan berteriak saat dia lapar.
Ayahku yang telah meninggal, karena tertabrak oleh mobil pada saat ia menentang karung untuk mengambil botol sisa air minum orang lain di sebuah pembatas jalan, itulah yang aku tahu tentang ayahku tak banyak yang aku pahami dari dia, dia hanya meninggalkan cerita buat diriku saja, aku hanya bisa melihat ibuku yang diusung orang-orang menuju ke pemakaman tempat ia akan tertidur selamanya, aku cukup banyak belajar dari dia untuk mencari makan dipinggir jalan, aku begini banyak berguru kepadanya, sampai ia ketahui dari ibuku, kini aku hany hidup berdua dengan adikku yang masih sangat kecil itu. Saya hanya bisa membawanya keluar masuk dari jalan-jalan luas yang sumpek dengan bunyi-bunyi mobil.
Sekarang aku hanya bisa duduk bersandar dengan orang-orang yang tak aku kenal dibawah bangunan tua yang tak berpenghuni, yang terpikir olehku hanyalah menunggu hujan reda dan mendapatka uang untuk aku berikan makanan berdua dengan adikku yang tak ikut denganku, aku harus menghalau hujan, tubuhku sudah mulai basah kini aku berada di salah satu ruas jalan menunggu pintu-pintu kendaraan yang berlalu lalang untuk dibuka diikuti uluran tangan  yang menyodorkan sekeping uang lebih dari mereka. Sakit tidak kuhiraukan lagi, meskipun biaya pengobatannya mahal, yang aku tahu hanyalah bagaimana aku mendapatkan uang untuk hidup besok.
Sekian lama aku berdiri bibirku kini sudah berwarna abu-abu dan bajuku basah diikuti oleh bibir yang ikut bergetar gigiku mulai mengeluarkan bunyi-bunyi yang sangat merdu bertabrakan satu sama lain. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti dan sebungkus mie, hatiku sangat senang setidaknya ada yang bisa saya makan hari ini, orang-orang hanya melihat aku dalam aktivitasku. Aku masih terus menunggu dan menunggu untuk menanti uluran tangan yang kedua, dingin sudah tidak bisa aku tahan, bergegas aku kembali untuk bertedu dibangunan tua, duduk sambil melihat tubuhku yang bergetar tak pernah berhenti, aku hanya bis memeluk hidupku tak banyak yang aku bisa  perbuat, aku ingin sekolah namun niatku itu harus aku kubur dalam-dalam, aku ingin seperti mereka yang selalu tertawa riang dimana saja, semuanya hanya mimpi bagiku.




BINGUNG

            Siang yang begitu terik aku terbaring di atas kasur yang begitu empuk bagiku karena sudah lama aku tidur di lantai, selama masa pendidikanku, kini aku terbaring di atas kasur yang begitu empuk itu, di rumah temanku inilah aku tinggal untuk sementara, udara semakin panas mataku terbuka tahap demi tahap, lalu pancaran cahaya matahari sudah menerangi wajahku, aku bergegas bangun dari tempat tidurku, ku ayunkan tanganku ke udara dengan merenggangkan semua otot-otot yang sempat letih dan terasa kaku dalam menjalankan aktivitasku.
            Semalam saya tak dapat tidur, dan terus berkhayal namun pemikiran saya tak menentu, karena adanya suara-suara yang aneh di atas atap, sesekali aku terbangun untuk menoleh keluar jendela, dalam pikiran saya yang terlintas hanyalah sosok seseorang yang berusaha memanjat pagar rumah seseorang tanpa seizing penghuni rumah. Namun imajinasi saya tidak terbukti, melainkan hanya dua ekor kucing yang sedang berlarian memperebutkan bangkai tikus yang semapt merampok di rumah pemilik kucing berwarna putih, malang sekali nasib tikus itu, belum sempat memakan hasil curiannya, ehh, dirinya termakan oleh kucing berwarna putih.
            Atap rumah begitu gaduh aku tak tahan mendengarnya, aku keluar dan mengusir kedua kucing yang sempat kejar-kejaran karena memperebutkan bangkai tikus yang didapat oleh kucing berwarna putih.
            Lama aku pandangi dan mengusir kedua tikus itu, keduanya tak mau beranjak dari atap rumah, namun tak sengaja tiba-tiba saya melihat tikus itu bergerak, dan menggigit kucing yang berwarna putih, kemudian ia terlepas, karena kucing putih sangat kesakitan, tetapi tikus itu tidak lari melainkan tinggal di tempat menyaksikan perseteruan antara kedua kucing yang sedang menggertak satu sama lain, akibat dari perebutan dirinya.
            Aku pun berpikir kejadian ini hampir mirip dengan kisah-kisah korupsi di negeri ini.
            Seolah-olah kucing hitam berbicara kepada sang tikus, kamu pergilah dan bawa hasil curianmu biar aku yang menghadang kucing yang akan menangkapmu ini.
            Ha….ha….ha…….
            Pikiranku pun mulai kembali beraksi, dengan khayalan-khayalan yang sedikit berfantasi, dalam hati dan pikiranku berkata, tikus yang telah mencuri wajib ditangkap oleh kucing, tetapi kucing hitam begitu aneh dengan tingkah lakunya, dia membiarkan tikus itu pergi dengan cara menganggukkan kepalanya, seolah-olah ia memberi isyarat.
            Tapi mengapa kucing hitam ingin melindungi tikus yang telah mencuri tadi, padahal niat baik kucing putih ingin menangkap si pencuri yang telah mengambil barang yang bukan punyanya.
            Tak lama berselang kedua kucing itu kabur tanpa mendapatkan apa sama sekali melainkan hanya bekas-bekas luka akibat cakar mencakar yang dilakukannya.
            Aku bergegas mencuci mukaku karena apa yang saya harapakan untuk mengusir kebisingan telah tercapai, aku mengambil sebatang rokok dan membuat kopi, ku angkat sebuah kursi untuk duduk, sambil  melihat orang-orang berdasi pergi ke kantornya.
            Kembali aku berkhayal, dengan kejadian dari proses aku bangun, mungkin begitulah pencuri di negeri ini ada yang dilindungi dan ada yang dibiarkan berkembang. Aku pun tersenyum kecil dengan melihat anak kecil yang sedang mengenakan seragam sekolah untuk menuju ke sekolahnya.
            Belum lagi aku meneguk kopiku, terdengar dari siaran televisi telah terjadi pencurian uang yang dilakukan oleh seorang pejabat Negara. Aku bergegas memalingkan wajahku dan menghadap ke televise, dalam khayal aku bertanya, waduh pejabat Negara kok maling uang rakyat, apa gakinya belum cukup……?
            Tak terasa istirahatku cukup menyita waktuku hamper 3 jam aku hanya duduk di depan televisi hanya untuk menyaksikan berita, tiba-tiba temanku datang, Zul kamu tidak menjemur pakaian kamu.
            Oooo iya, pakaianku belu ku jemur, aku bergegas menuju sumur dan menimba air untuk membilasnya, satu jam aku bergulat dengan pakaian kotorku tadi, tiba waktunya untuk beristirahat maklum pengacara “pengangguran banyak acara”.
            Saya dan temanku kembali bersandar di sudut rumahnya sambil minum kopi dan ditemani hisapan rokok, saya pun bercerita masalah kejadian yang saya alami pada sangat bangun tidur. Tapi yang melekat dalam ingatanku cuma masalah pejabat yang mencuri uang rakyat tadi. Saya berusaha mencari biodata dirinya, di sebuag warung internet, aku pun langsung kembali ke rumah karena apa yang aku cari telah aku dapat.
Rendra duduk disampingku dengan meneguk kopi yang aku buat sehabis bangun tidur.”Eh…masih untung aku tidak menikmati pendidikan yang tinggi’ kalau begini ceritanya bisa-bisa aku masuk didalamnya,”           
Sambil menoleh ke televise saya pun menjawab perkataan temanku tadi ”Kamu jangan berfikir begitu, tapi aku juga sempat tercengang melihat berita tadi” apa mungkin yaa…?”
“Ha…ha..ha… kamu tidak usah sekolah tinggi-tingi kalu ujung-ujungnya ingin kaya”
Sambil bercanda di hadapanku dengan mendorong bahukananku pelan-pelan, aku kembali teringat oleh hayalanku itu, kembali aku merunut dalam pikiranku tentang orang tadi Ternyata orang itu, memilki pendidikan yang tinggi, saya pun menelusuri lebih dalam dari data yang saya print, ternyata oaring yang berdasi yang lewat di depan rumah adalah alumni dari tempat pendidikan yang sama dengan si pejabat. Saya pun melihat masa lalunya dari biodata yang aku baca. Yang mengherankan lagi, sekolah yang akan didatangi anak kecil di samping rumahku tadi, itu temapt pajabat ini menuntut ilmu.
            Saya berpikir apa mungkin sekolah itu tempat mendidik para tikus-tikus berdasi, kalau memang iya bisa-bisa semua orang yang bersekolah di sana itu tikus.

Kamis, 19 Mei 2011

BUTA

BUTA

Tepat pukul 12 malam, tanggal 28 Mei Andi  membuka bukunya, dengan tangan kirinya dibukanya lembaran-lembaran kertas yang berisi tulisan orang- orang terpelajar.
            Matanya membaca huruf demi huruf, kata demi kata. Diangkatmya bukuu itu ke atas, sambil meraih kopi sisa hasil tadi pagi yang ia buat.
            Matanya terus memandangi potongan-potongan kata dalam tiap lembar kertasnya, buku yang berjudul BUTA itu, sangat menarik bagi dia, suara binatang yang merdu berbunyi di malam hari, menemani Andi dalam menikmati buku yang sempat ia beli di salah satu pasar loak yang tak ramai dikunjungi orang.
            Andi mengambil tasnya dan merogok kantong yang paling kecil di sebelah kanan tasnya, diangkatnya bolpoint yang memiliki mata besar dengan tinta berwarna merah. Ia sesekali menggores tiap laman-laman buku yang menarik perhatiannya entah karena ia suka atau mungkin tidak ia mengerti.
            Tak terasa tulang-tulang semakin menggigil, dengan kumpulan asap tebal yang turun dari gunung Andi bergegas berdiri dan mengambil sarung yang sudah berbau mungkin belum dicuci selama sebulan lebih, namun kabut dan dingin semakin menyerang ia tidak mempedulikan sarung itu.
            Tepat pukul 2 dini hari, Andi masih bersemnagat membaca buku yang ia beli, dalam khayalnya sebelum membeli buku itu, ia berpikir bahwa buku inibercerita tentang orang yang tidak dapat melihat keindahan alam, khayalannya jauh berbanding terbalik dari apa yang diharapkan.
            Tidak lama berselang, ibunya bangun dari tempat tidur, sambil membaca doa. Sumiati pun keluar dari kamarnya dengan menenteng mukenah berwarna hitam bergaris merah. Namun Andi masih enak duduk di atas kursi rotasn yang kakinya hanya tiga ditemani oleh buku yang sangat tebal.
            Sumiati adalah ibu Andi, kesehariannya hanya menjual gogos di depan emper-emper toko yang menjulang tinggi ke langit.
“Andi..,” tanya ibunya.
Dengan nada pelan, Andi segera memutar badannya dan berbicara, “ya bu,,.”
“kamu belum tidur?”
“belum bu, saya masih membaca buku yang aku beli di pasar tempatnya pak Janu.”  
            Langkah kaki yang bergerak lambat, tik..tok..tik..tok.. menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ibu Andi adalah seorang yang taat beragama sepeninggal ayahnya Andi hanya tinggal berdua dengan ibunya di dalam rumah yang berukuran 4x5 meter saja. Suara adzan terus berbunyi, Andi masih asyik dengan bacaannya. Ibunya bergegas ke mesjid. Ia hanya menegur anaknya dengan sekali teguran.
“Andi, kamu ambil air wudhu sana dan ke mesjid.” Suara itu cepat menghilang yang ada hanya suara laki-laki yang terburu-buru.
            “Aku masih penasaran dengan buku ini, buku ini membuatku bingung.”
            Matanya sudah mulai melawan keinginan Andi untuk membaca, ia pun tak tahan dengan godaan kasur dan bantal yang terpampang di pojok rumahnya. Namun, Andi harus menyelesaikan buku yang membuatnya  bertanya-tanya.
            “sisa dua lembar, saya harus menyelesaikannya.”
            Tak lama berselang, buku itu habis dibacanya. Namun matanya menolak untuk tidur lagi, ia harus berpikir.
            “ Bu, apakah orang buta itu buta hati? ” tanyanya dalam hati, ia kemudian bingung dengan sendirinya. Ibunya muncul di depan pintu, Andi bergegas memalingkan wajahnya menghadap ke ibunya.
            “ Bu’ apakah orang buta itu buta hati…?”
Ibunya tersentak heran,” Maksud kamu?”
“ya bu, saya membaca buku ini,” dengan santainya ibunya berkata “ Mereka adalah orang-orang yang punya mata, mereka diberi penglihatan hanya untuk menindas satu sama lain.”
Andi pun heran dengan perkataan ibunya yang begitu lemah lembut. Namun menyentak perasaan dan pikiran ini.
“ Mereka buta hati, Nak.”
Andi pun menundukkan kepalanya dan merenungkan perkataan ibunya.
“ Ayo kamu tidur, dari jam 8 tadi sampai sekarang, kamu hanya membaca terus, nanti kamu buta nak,” dengan sedikit senyum di bibir sang ibu.
Namun ibunya terus bercerita. “ Mereka itu dibutakan oleh harta meskipun mata mereka melihat.”
“ Orang-orang di atas sana yang duduk di kursi empuk senang melihat prang miskin menderita” dan diolok-olok, itulah kenapa mereka buta.”
Ibunya bergegas ke dapur, pukul 06.00. matahari mulai menyapa. Ibu Andi mulai bergegas membawa gogos yang ia buat semalam untuk dijajahkan demi menghidupi dirinya dan anaknya di bawah gedung-gedung tinggi itulah ia menjajakan hasil tangannya.