Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

PIKIRANKU

pada ribuan kisah,pada sejuta cerita,dalam sebuah dongeng anak negeri
alam hanyalah perselisihan
realitas hanyalah fenomena
realitas hanyalah sebuah kicauan semata
indah hanya sebuah sugesti


dimanakah aku berdiri sekarang?
banyak hal yang tak nampak namun mereka kata nampak

dinakah ketampakan itu?
alam tidak selamanya indah
realitas hanya sebuah kreasi imajinasi


jangan pedulikan kicauan burung yang tak jelas itu
nyanyian dibalik dongengnya menjerumuskan kehidupan


realitas hanya propaganda keparat
ketidak jelasan membungkus kebodohan


syair-syairku ini mungkin tak jelas
akan ku perjelas dalam bait-bait yang menghatarkan pertempuran


humanis katanya itu hanya dongeng dari balik manifesto imperialis
universal katanya itu hanya wujud dari kolonialisasi


realitas, hahahahahahaha
alam hahahahahahahaha


darimana bayangan  itu berasal
darimana kebodohan itu muncul

realitas dibalik sebuah dikotomi pikiran
realitas dibalik budaya imperialis dan kapitalis

hakiki tak ada gunanya disini
indah itu bukanlah indah


tanyakan padanya aku bukan humanis bahkan universal sekalipun
teriakkan padanya hanya kami yang bisa mengerti dengan kehidupan ini
kami hanya mengenal kesetaraan dan keadilan
cita-cita kami tersandar pada harapan sejahtera
bukan standarnitas yang kau cetuskan

SUARA

aku hanya bisa duduk dalam kelas
aku hanya bisa mendengar dongeng-dongeng itu
aku cuma bisa terdiam
hidupku telah diarahkan oleh mereka
 aku malas dalam semua ini
aku tahu apa yang harus aku perbuat
kemarin dongengnya sempat mencabut jiwaku dan merampas kebebsanku
hanya kata-kata yang indah saja yang aku dengar
aku tak mengerti dengan omongan itu
barangkali dia ingin mengelabuiku
dewa kelas itu bertanya padaku,,apa itu indah
hahahahaha dengan lantang aku jawab bohong
dia bertanya lagi,,realitas
hahahahaha aku jawab dongeng
dia bilang kemiskinan
hahahahaha aku menjawab anda orang mampu
dia bilang teks
hahahaha aku bilang hanya slogan tanpa kemenangan
dia bilang indah
hahahahaha aku menjawab itu hanya hasupan semata
belajar katanya
hahahahah aku jawab aku belajar untuk dirampas kebebasannya
lagi-lagi aku mendengar nyanian itu
lagi-lagi aku mendengar kicauan itu
lagi-lagi aku diperdengarkan suara itu
hahahahaha suara,musik dan nyanyian itu lagi
 nayaian itu telah menelantarkan semua orang
nyanyian itu telah merampas masa depan anak-anak negeri
kicauan itu lagi yang diperdengarkan dalam ruang kelas
tak cukup kah generasi yang berlalalu itu kalian bohongi biarlah cukupalah aku yang mengetahinya
namun aku begitu sayang pada mereka, aku tak bisa berdiam saja
katakan pada mereka kicauanmu tak berlaku di telingaku
tanyakan padanya nyanyiannya tak masuk dalam akalku
katakan pula padanya suara yang sumbang itu tak berpengaruh padaku

Kamis, 21 Juli 2011

LEMBU-LEMBU PETANG


Lembu-lembu petang
kini tapak kaki penuh dengan amarah
matahari terbit sebelah barat
songsongan gelap mulai menapak
tirani menjadi peraaduan
begitu sombongkah aku ini
aku tak pernah merasa diam dalam gelap
meski bayang-bayang menakutkan datang di siang yang kelam
lembayun di ufuk timur
putra tanah ini hilang dalam harapan
orang-orang ditanah ini sirna di dalam fantasi
lembu-lembu menyongsong petang
dunia begitu angkuh bagiku
tangis anak-anak menjadi primadona sesaat
lembayun di ufuk timur, menuai harapan kematian
bocah-bocah kecil mengitari jalan-jalan
anak-anak kecil bermain di bawah ketakutan
siapakah yang akan merangkul mereka...?
siapakah yang akan menjinakkan anjing dalam kandangnya...?
selongsongan peluru bertabur di atas tanah
kepala-demi kepala tertunduk dimana-mana
tak seorang pun dari kita yang tahu akan itu
tancapkan bendera kematianmu pada kepalaku ini
perempuan-perempuan malam hilang terbawa kekerasan
perempuan yang malang kekasih malamku
mereka datang menjilat tubuhku penuh dengan nafsu
malam yang aku impikan membunuh jiwaku
lembayun sanja yang begitu ku rinduh
tangis-tangis bayi di malam hari saat senja menjemputku
kantong-kantong plastik menjadi tempan untuk harapanku
kini aku hanya bisa melihat dan memandanginya terbaring dalam buaian malam

tangis-tangis dalam kamar
jeritan dalam jiwa
basuhan air mata
tak seorang pun tahu akan hal itu
kami dianggap berdosa
kami seperti orang-orang yang merusak kehidupan
lantas dimanakah tempat kami untuk mecari kedamaian...?

matahari terlalu indah bagiku
bulan begitu baik bagiku
jalanan begitu bersahabat denganku
orang-orang selalu datang dan menjamahku

kain putih aku baringkan diatas tanah
selembar rupiah kini membanjiri badan ini
satu persatu mereka datang dan duduk
harapan demi harapan terbuang dalam kekejaman
perempuan yang sedang menyusui harapannya
matahri tak baik baginya


PEREMPUAN


siang yang mencekam dan malam yang tercengang
para perempuan turun ke jalan dengan serbet di lengan
kucuran keringat menemani dirinya
air mata btak lagi bening
para perempuan-perempuan tangguh

berdiri tegak dibalik kawat-kawat berduri
para perempuan siap untuk bertaruh
panas taklagi terasa
hujan tak lagi mengurai dingin
namun semangat terus berkobar dibalik kawat-kawat berduri

alunan syair-syair keluar dari mulut yang kokoh
para perempuan datang dan tegap dalam perjuangan
sudah terlalu lama kami menunggu
sudah terlalu lama perempuan-perempuan dinegeri ini tersermpet oleh waktu
sudah cukup lama dapur-dapur kami hanya menanak daun kering
para perempuan tangguh tegap dalam teriakan pembebasan

dapur yang tak mengepul kelamin tergadai
 
anak kami hanya meminum susu dari air beras saja
 
tidak sehat katamu itu bulsid
zina katamu omong kosong
 
para perempuan tangguh hidup dalam cekaman parasit negeri ini

wahai perempuan-perempuan tangguh tancapkanlah kelaminmu pada tiang bendera yang mereka hormati

katakan pada mereka inilah yang kalin cari
perempuan-perempuan yang terserempet waktu hidup dalam cercaan namun berjiwa pahlawan

kabarkan pada masa depanmu bahwa tanah ini begitu naif dan angkuh
 
perempuan-perempuan tangguh yang tegap berdiri dibalik kawat berduri
alunan angin selalu menina bobokkan
pancaran sinar selalu menemani

kebenaran dan keadilan harus kita perjuangkan

AIR MATA

suara tangis menggemuru diterpa sang kabut
alunan alunan kesenian kian ber onani di balik bilik ranjang
suara-suara malam kian tertindih dalam raungan manusia
ada air mata di negeri ini

kesaksian anak-anak domba dalam jelmaan zaman
kebisuan telah membungkam suara ini
hanya goresan-goresan kesedihan yang aku lihat pada setiap dinding rumah
ada tangis di negeri ini

syair-syair dlan tiapgoresan pena
tak lebih dari sebuah kebodohan yang tercatat pada setiap lembar kebohongan
setiap karya yang keluar hanya melahirkan penderitaan bagi sesama
ada air mata di setiap anak-anak negeri ini

akan kutancapkan setiap penderitaan di tiang bendera yang kalian hormati itu
akan ku tuliskan setiap air mata yang menetes dalam gelap
sekatung tintah tak bisa menuliskan kematian yang ada di negeri ini
ada air mata dalam mata setiap anak kami

debu-debu jalanan menjadi santapan yang empuk
daun-daun kering menjadi persinggahan kelelahan
ada air mata di negeri ini
basutan-besutan siang terdengar seperti jeritan kematian
alunan-alunan musik membawa kemusrikan dalam setiap dawaiaanya

syair-syair hanya menjadi dongeng dalam kebisuan
sajak-sajak hanya menjadi tulisan-tulisan semata
katakan pada mereka bahwa ada air mata di negeri ini
tanyakan pada setiap telinga ada yang mati di negeri ini
syair-syair,sjak-sajak hanya dongeng semata yang berlindung dan tunduk pada zaman

dinama lagi sajak-sajak dan syair yang kami rindukan saat fajar datang??

Minggu, 26 Juni 2011

INDA' TAU

HANYA MAWAR JALANAN YANG AKU JUMPAI
HANYA KUMBANG RUMAHAN YANG AKU DAPATI
NAMUN ADAKAH KUMBANG DAN LEBAH YANG LIAR SEPERTI DIRIMU?
LEMBAH YANG BEGITU SUNYI

...KUGORESKAN SEDIKIT GARIS DALAM JIWAMU
KUTANCAPKAN SEDIKIT INGATAN AKAN PEDISNYA DUNIA
TOREHAN-TOREHA CINTA KUSAYATKAN PADA TINTA YANG USANG
JILATAN-JILATAN PANAS MENUSUK DIRI

AKU MENELUSURI JALAN DALAM SETIAP SENDI-SENDI KEMALANGAN
KAKIKU TAK PERNAH BERHENTI MENCARI
WAKTU DEMI WAKTU TERUS BERLARI
GANASNYA JALANAN MENJADI SAHABAT

OIIIII ADAKAH DIA DALAM INGATAN

BAYANG-BAYANG YANG KELAM
SUNYI YANG MEMINGUGKAN
AKU MULAI MEMIKUL MATAHARI
TAK ADA SENYUM YANG TAMPAK PADA DIRINYA

HANYA TANGIS DAN AIR MAT YANG ADA PADANYA

ANAK-ANAK KUMBANG YANG MALANG
SAHABAT-SAHABAT LEBAH YANG KESEPIAN
HIDUP DALAM SEBUAH SEKAPAN

KEY

KEY BORD TERUS BERBUNYI
SYAIR TEERUS KUTULISKAN
NAMA-NAMA TERUS KUPAJANG
ADAKAH SEGENAP RIDU DATANG PADAKU
MALAN JADI PENAWAR
SIANG JADI SAHABAT
HIDUP YANG BEGITU MEMBINGUNGKAN
BINTANG MENEMANI MALAM
MATAHARI MENEMANI SIANG
REMBUALAN BEGITU CINTA PADA MALAM
NAMUN MALM-MALAMKU BEGITU MEMBINGUNGKA
AKAH SEUNTAI RINDU KUCURAHKAN DALAM HAYALAN
SEGENGGAM HARAPAT AKU TERBARKA
KU YAKIN AKAN TUMBUH BENIH KEHIDUPAN
TIK,TAK,TIK,TAK,KEY BORD KU BERDENTANG
DAK,,DI,,DUK,,HATI KU BERBICARA
TAMAN IMPIAN BUNGA HARAPAN
AIR HUJAN AKAN MEMBASAHI DIRIMU
RUMPT YANG HIJAU JADI TEMANMU
MATAHARI JADI PENGAWALMU
REMBULAN JADI PENERANGMU
KU INGIN TUMBUH DAN HINGGAP DI SAMPINGMU MENUAI RIDU YANG AKU TANAM

KABAR

matahari itu merah
matahari itu menyala
matahari itu kalu dilihat warnanya sorens
matahari itu seperti bola pimpong yang memantul dari atas ke bawah
tapi matahari kami tak seperti itu
matahari kami seperti melon
matahari kami merah darah
matahari kami tak bercahaya
kenapa dengan matahari itu?
ohh,,,matahari
ohh matahari
sepucuk panah bersarang di ddalam hati
kering meronta
tak ter tahankan
suara-suara batin terus terbendung oleh marah yang bisa meruntuhkan semuanya
celoteh-celoteh aku dengarkan
ohhh matahari sianr mu seperti pisau dalam diriku
matahari
matahari
mata hatiku

BUAR

sepucuk rindu tak dapat mengawinkan diriku
sepucuk mawar tak mampu menandinginya
se untai rumput tak mampu menghidupinya
sekuntum cinta tak mampu memulihkannya

ku kabarkan pada angin celotehku
kusempatkan rindu dalam pelukmu
kubisikkan pada angin penderitaanku
aku terus bersujud meminta padanya

harapanku kini hanya pada tangan dan pikiranku
setiap tapak-tapak aspal aku jelajahi
setiap ruas-ruas jalan aku lalui
aku hanya bisa melihat dia dari jauh

wajah yang sayu murung akan rindu
jiwa yang fanah haus akan kebencian

diamana lagi aku bisa menanamkan ridu
dimana algi aku bisa tersenyum
hanya di sini tempatku
hanay di tempat ini aku bisa beradu
aku takut gelap akan membawaku
aku takut matahari tak berpijak lagi

aku akan terus menam ridu di dalam taman-taman yang angku dan sombong
akan ku tancapkan linggis dan arit di yanah yang serakah
biarkan mereka tahu bahwa kami tak butuh di kasihani
kami bisa berbuat dan bemcita-cita untuk merdeka

Minggu, 12 Juni 2011

PESAN SANG NABI


Hai… umatku bersainglah satu sama lain
Hai… umatku saling menjatuhkanlah satu sama lain
Hai… pejabat Negara semenah-menahlah kepada rakyat
Hai… manusia sebarkanlah pesanku ini

            Pada tiap tiang-tiang rumah pancung leher orang miskin
            Pada tiap tiang rumah hujanilah dengan darah
            dalam tiap isi rumah berkelahilah engkau
            Sebarkanlah pesanku kepada semua

Janganlah tolong menolong
Saling menganiayanyalah satu sama lain
Niscaya dunia akan damai

GADIS KECIL

gadis kecil yang lincah
menari bernyanyi diatas perapian yang panas
gadis kecil yang cantik menangis,bersua diatas bara yang panas
gadis kecil itu mati karena kesakitan

gadis kecil yang malang
malang melintang menjelajah aspal
gadis kecil,gadis kecil gadis kecil itu
matanya berkaca-kaca

rambut yang begitu indah
tangan yang terus berayun diatas udara
jejak langkah yang memutari aspal-aspal panas
mata yang indah, mengeluarkan darah

gadis kecil itu kini telah tiada
gadis kecil itu hilanh ditelan oleh amarah
gadis kecil itu menanti gadis-gadis kecil yang lain ikut dengannya
gadis kecil oooo gadis kecil yang molek hilang dalam guguran daun yang begitu muda

AIR

jiwa ini tak gentar
mata ini tak berkedip
otak ini tak pernah berhenti berfikir
mata hari akan terbit dari utara

telinga ini tak pernah berhenti mendengar
tangan ini tak pernah berbuat
tapi apa yang anda perbuat..??
kursi-kursi empuk di luar sana tak bisa menjamin anda, selama masih ada penistaan

mata ini mata yang selalu melihat mereka berlalu lalang
telinga ini selalu melihat mereka meminta
tapi hati kita tak pernah tergugah
mereka diam dan membisu melihat itu semua

bangkitlah kaum tertindas, dan bungkam mulut mereka
biji padi tidak berkilau seperti emas lagi
air tak sebening dulu lagi
perut semakin membusung
tulang rusuk semakin nampak

kepelkan tangan kirimu dan tinju para mereka yang membisu itu
bangkitlah..bangkitlah..bangkitlah
selimut-selimut kabut akan turun memenuhi jalan-jalan
dan berkata jujur kepada orang-orang yangtak jujur

leher tercekik,tangankan berontak

AMUK

jiwa ini tak gentar
mata ini tak berkedip
otak ini tak pernah berhenti berfikir
mata hari akan terbit dari utara

telinga ini tak pernah berhenti mendengar
tangan ini tak pernah berbuat
tapi apa yang anda perbuat..??
kursi-kursi empuk di luar sana tak bisa menjamin anda, selama masih ada penistaan

mata ini mata yang selalu melihat mereka berlalu lalang
telinga ini selalu melihat mereka meminta
tapi hati kita tak pernah tergugah
mereka diam dan membisu melihat itu semua

bangkitlah kaum tertindas, dan bungkam mulut mereka
biji padi tidak berkilau seperti emas lagi
air tak sebening dulu lagi
perut semakin membusung
tulang rusuk semakin nampak

kepelkan tangan kirimu dan tinju para mereka yang membisu itu
bangkitlah..bangkitlah..bangkitlah
selimut-selimut kabut akan turun memenuhi jalan-jalan
dan berkata jujur kepada orang-orang yangtak jujur

leher tercekik,tangankan berontak

Kamis, 09 Juni 2011

UJUNG KAMPUNG

Pagi itu jawara mualai menapaki bumi
Sebatang tembakau kutancapkan dibibir
Secangkir kopi menemani meja yang berdebu
Gumpalan awan menghalangi panasnya matahari
       Kicauan burung yang berirama membuat hati ini menjadi tenang
       Hamparan rerumputan menari-nari dihadapanku
       Kilauan air membanjiri tanah yang kering
       Batang-batang yang berwarna hijau menorehkan pesan
Tapi…tapi…tapi…tapi…
Jawara tidak seramah dulu lagi
Burung-burung berlari ketakutan
Semesta mulai meneriakan teriakan
     Rumpu mulai menguning
     Air mulai bermalas-malasan
    Angin sepoi-sepoi tak lagi menyapa wajahku
    Tanah-tanah berkerut menekuk dan merunduk
Batang-batang yang menjualang tinggi tak lagi berwaana
Amarah alam muali bergejolak
Inikah tanahku….inikah rumahku…inikah tempat aku disemanyamkan kelak
Perut mambusung dan dada yang kering bertebaran
  Dimana….kemana…siapa….mengapa

MLM

Senja mulai berbisik dihadapan sang penerawang siang
Tiupan amgin mulai berhembuh dari segala penjuru
Kipassan ombak semakin menderu dalam membelai daratan
Kerumuna ilalang mulai meredup tak satupun harapan yang muncul
Semarak hutan mulai berbicara dalam menyambut sang fajar
Kenistaan dan kesemuan mulai menapak dikaki sang cakrawala
Gemuru sang penghuni muali menajamkan panahnya
Masa perburuan pun mulai digalakkan
Hembusan nafas mulai tercium oleh sang bujana
Reembuslsn tersipu malu melihat kemahsyuran sang tabir
Wajah mungilnya menerangi semesta dengan sedikit kecupan
Semampai tangannya mulai menjalar dan matanya mulai membelalak
Sorot mata yang tajam ingim menerkam mangsanya
Derasnya air mengalir dari tiap tubuh sang penghuni
Rasa haus dan lapar selalu melambaikan tangan dan melemparkan senymnya kemuka bumi
Sampai kapan ini kita nikmati.

KINI

                                                        
Enam puluh lima tahun kita menikmati perjangan mereka
Impian yang tertuang selalu menghiasi dirinya
Semesta berbisik padanya ingin mengatakan sesuatu
Angin berseru dan bersua di depan pohon itu
Dipungutnya satupersatu sebuah impian yang berserakan   selama ini
            Gemercik air menghiasi langkahnya
            Dua ratus tujuh puluh juta semut menghadang langkahnya
            Semuanya diam dan terhenya oleh kemerahan langit
Enem puluh lima tahun semut itu menanti kedatangannya
Kain itu terbentang lurus menyampaikan sesuatu
Alam mulai bercengkrama dengannya
Satu-persatu bintang memandanginya
            Satu-persatu tikus mendatanginya
            Jemari mulai bergetar
            Kemolekan bentuk dan tubunya membuatku terpanah
            Ku ingin mengambil dan menghilangkannya
Setan bertanduk semakin Berjaya di depan
Enampuluh lima tahun kita menikmati pahitnya arang
Enam puluh lima tahun kita menikmati panasnya bara
Enam puluh lima tahun kita menikmati racun
            Bibir ini terus berkoar-koar di tengah jalan
            Kepala ini mulai menggoreskan kemaluannya
            Lentik-lentik jari muali menelusuri jalan
Enam puluh lima tahun kita di hinati dan dirampok
Enem puluh lima tahun waktu yang sangat tak jelas keberadaanya

TANPA JUDUL

Kotak mungil sikotak bertuan
Jauh di genggam di belai tuan
Tombol kecil menorehkan bacaan
Sudihkah tuan menaruh harpan
            Kotak berwana itu mewan hati
            Kotaknya kecil memikat jiwa
            Seutas tali menerawang hati
            Tumbuh bertuan tiada arti
Kotak bertuan pujaan hati
Minimba air di pinggir kali
Burung kenari besiul merdu tiada henti
Seraya bertanya hatikan menepi
            Genggamat erat menaruh harapan
            Pandangan tajam menaruh pesan
            Telapak tangan engkau layangkan
            Tiriakan batin semakin menyesatkan
Raungan awan menusuk semesta
Sudihkah tuan merasakan siksa
Senja kelabu menuai kenistaan
Kesetian dihujat disobek amarah

LEMBU-LEMBU PETANG

kini tapak kaki penuh dengan amarah
matahari terbit sebelah barat
songsongan gelap mulai menapak
tirani menjadi peraaduan
begitu sombongkah aku ini
aku tak pernah merasa diam dalam gelap
meski bayang-bayang menakutkan datang di siang yang kelam
 
lembayun di ufuk timur yang begitu berrarti
putra tanah ini hilang dalamcengkraman zaman
orang-orang ditanah ini sirna di dalam fantasi
lembu-lembu menyongsong petang
dunia begitu angkuh bagiku

tangis anak-anak menjadi primadona semua orang
lembayun di ufuk timur, menuai harapan kematian
bocah-bocah kecil mengitari jalan-jalan
anak-anak kecil bermain di bawah ketakutan
siapakah yang akan merangkul mereka...?
siapakah yang akan menjinakkan anjing dalam kandangnya...?

selongsongan peluru bertabur di atas tanah
kepala-demi kepala tertunduk dimana-mana
tak seorang pun dari kita yang tahu akan itu
tancapkan bendera kematianmu pada kepalaku ini
perempuan-perempuan malam hilang terbawa kekerasan

perempuan yang malang kekasih malamku
mereka datang menjilat tubuhku penuh dengan nafsu
malam yang aku impikan membunuh jiwaku
lembayun sanja yang begitu ku rinduh
tangis-tangis bayi di malam hari saat senja menjemputku
kantong-kantong plastik menjadi tempaT untuk harapanku
kini aku hanya bisa melihat dan memandanginya terbaring dalam buaian malam

tangis-tangis dalam kamar
jeritan dalam jiwa
basuhan air mata
tak seorang pun tahu akan hal itu
kami dianggap berdosa
kami seperti orang-orang yang merusak kehidupan
lantas dimanakah tempat kami untuk mecari kedamaian...?

matahari terlalu indah bagiku
bulan begitu baik bagiku
jalanan begitu bersahabat denganku
orang-orang selalu datang dan menjamahku

kain putih aku baringkan diatas tanah
selembar rupiah kini membanjiri badan ini
satu persatu mereka datang dan duduk
harapan demi harapan terbuang dalam kekejaman

perempuan yang sedang menyusui harapannya
matahri tak baik baginya

Rabu, 08 Juni 2011

MATA

mata tak dapat tertutup
kapan mata ini akan tertutup?
sudah banyak yang direkam olehnya
sudah banyak yang di saksikan olehnya

aku hanya melihat orang-orang dengan mata-mata yang tak berdosa
aku melihat mata yang tak mau tahu
kapan mata itu akan tertutup

mata itu selalu melihat kearah kami
mata itu selalu mengintai kami
mata itu memata-matai kami
mata-mata yang haus

air mata jatuh mengalir dengan deras
mata yang kering dengan keadilan
mata yang begitu menyedihkan
kapan mata mereka terbuka?

mata..mata itu!
mata yang menakutkan
mata yang aku lihat di seberang sana
jauh datang ingin menimba air mata

air mata dibalik matanya
matanya dibalik air mata
cahaya yang mengalir seperti air
basah dan kering setiap saat

mata itu mata yang membuatku takut
mata itu telah merampas mata yang lain
mata itu meneteskan air mata kami
mana air mata kami, air mata kami dimakah ia?

mata-mata
mata hati mata batin
mata yang meliaht namun buta
mata yang membelalk seperti senjata dalam diri

air mata dimata mereka

MAWAR PUTIH

matanya begitu indah saat sinar manerpa wajahnya
bila malam datang dia hidup dalam pikiran
setiap saat bulan selalu tersenyum dengannya
dia, dia lah orangnya

mawar putih yang terindah
kupu yang menghinggapinya mendatangkan kegelisahan
akankah aku menjadi kupu yang lain untuknya
ia selau bersemi di taman hijau

mawar ptih yang terperangkap dalam rasa
aku tahu kau tak senang dengan itu
aku tahu kau sepi dalam dirimu

namun aku hanya bisa melihatmu dari jauh
aku hanya bisa memimpikan hatimu
setiap terpaan angin kau selalu melihat kehadapanku
aku yankin kaulah mawar putih yang aku cari

mawar putih yang penuh dengan kegelisahan
angin akan selalu berbisik di sampingmu
malam selalu menjagamu
kesunyian bbukanlah segalanya

matahari akan datang memberimu kecerahan dan kebahagiaan
mawar putih yang aku pandangi setiap saat
kutuliskan sajak ini untuknya dan para pemujanya
warnanya kian cerah saat ia membisu
aku tahu banyak tanya dalam hati mu

tapi waktu tak bisa menjawabnya
mawar putih dalam taman yang iandah
dirundung sepi
dan kemalangan
sekejap ia merdiam di balik durinya yang melindungi dari kupu--kupu yang tak di inginkan
kapan kupu-kupu yang hinggap itu pergi
mawar putih yang di rundung tanya